Berita

Membersihkan ginjal: delapan tip gaya alami

Air, teh peterseli, dan jus lemon adalah beberapa pilihan alami untuk membersihkan ginjal. Periksa daftar lengkapnya!

pembersihan ginjal

Gambar Piotr Chrobot yang telah diedit dan diubah ukurannya, tersedia di Unsplash

Membersihkan ginjal adalah proses penting untuk kesehatan tubuh, membuang kelebihan limbah, memungkinkan keseimbangan elektrolit dan pembentukan hormon.

Dengan tidak adanya penyakit, diet yang seimbang dan asupan air yang cukup biasanya cukup untuk menjaga kesehatan ginjal Anda. Namun, makanan dan herbal tertentu dapat meningkatkan kebersihan ginjal. Simak beberapa tips tentang cara membersihkan ginjal Anda secara alami.

1. Hidrasi adalah kuncinya

Tubuh manusia dewasa pada dasarnya terdiri dari hampir 60% air. Setiap organ, dari otak hingga hati, membutuhkan air untuk berfungsi. Tetapi ginjal, khususnya, karena mereka bertindak dalam sistem penyaringan, membutuhkan banyak air untuk mengeluarkan air seni, yang merupakan produk limbah utama tubuh.

Saat asupan air rendah, volume urine juga berkurang, yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan munculnya batu ginjal.

Sangat penting untuk minum cukup air agar ginjal dapat membersihkan kelebihan limbah dengan baik. Asupan cairan harian yang direkomendasikan adalah sekitar 3,7 liter dan 2,7 liter per hari untuk pria dan wanita, masing-masing, menurut Medicine Institute . Tetapi penting untuk memperhitungkan asupan makanan kaya air seperti mentimun, semangka, melon, dan lainnya.

2. Teh peterseli

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh platform PubMed , peterseli, kaya antioksidan dan vitamin, membantu membersihkan ginjal secara alami. Selama berabad-abad, teh peterseli telah digunakan sebagai diuretik yang membantu mengobati batu ginjal, batu kandung empedu, kandung kemih, dan infeksi saluran kemih.

Pembersihan ginjal bisa dilakukan, di bawah pengawasan medis, dengan mengonsumsi peterseli mentah, teh peterseli atau peterseli dengan air dan lemon. Akar jamu juga sangat bermanfaat dalam memerangi batu ginjal. Pelajari lebih lanjut tentang teh dalam artikel: "Teh peterseli: untuk apa dan manfaatnya".

3. Anggur

Anggur mengandung senyawa yang disebut resveratrol. Dan dalam sebuah penelitian pada hewan, para peneliti menemukan bahwa pengobatan dengan resveratrol mampu mengurangi peradangan ginjal polikistik.

4. Jus lemon, jeruk dan melon

Jus lemon, jeruk, dan melon mengandung asam sitrat. Zat ini membantu mencegah pembentukan batu ginjal, karena mengikat kalsium dalam urin. Ini menghambat pertumbuhan kristal kalsium, yang bisa menyebabkan batu ginjal.

Selain itu, minum secangkir jus segar sehari dapat berkontribusi pada asupan cairan harian yang direkomendasikan.

5. Rumput laut

Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa tikus yang diberi makan rumput laut selama 22 hari menunjukkan penurunan kerusakan ginjal dan hati yang disebabkan oleh diabetes. Hasilnya tidak membuktikan bahwa efek yang sama terjadi pada manusia, tetapi menunjukkan bahwa hal ini mungkin terjadi.

6. Makanan kaya kalsium

Banyak orang percaya bahwa menghindari kalsium dapat membantu mencegah batu ginjal. Faktanya, ini kebalikan dari itu.

Oksalat urin berlebih dapat menyebabkan batu ginjal. Kalsium, pada gilirannya, dapat mengikat oksalat untuk mengurangi penyerapan dan ekskresi zat ini, sehingga mencegah munculnya batu ginjal.

Selain produk olahan susu, Anda bisa mendapatkan kalsium dari makanan seperti kedelai, susu almond, dan tahu.

7. Teh Hydrangea ( Hydrangea paniculata )

Hydrangea adalah semak berbunga yang indah, terkenal dengan bunganya yang berwarna merah muda, biru dan putih.

Satu studi menemukan bahwa menelan ekstrak hydrangea panik selama tiga hari melindungi ginjal dari kerusakan oksidatif.

8. Teh Sambong ( Blumea balsamifera )

Sambong adalah semak dengan iklim tropis, umum di negara-negara seperti Filipina dan India. Dalam sebuah penelitian, peneliti menemukan bahwa ekstrak Blumea balsamifera menurunkan kristal kalsium oksalat. Ini menunjukkan potensinya untuk mencegah pembentukan batu ginjal.


Diadaptasi dari PubMed dan Healthline

Original text